Artikel

Islam Mendidik Anak Mandiri

Fenomena anak bekerja sejak kecil, menjadikan sebagian orang tua bertanya, apakah hal ini termasuk dalam mengekplotasi anak atau tidak? Apakah membatasi ruang belajar dan bermain mereka? Bagaimana Islam menjawab pertanyaan seputar dunia anak yang bekerja sejak usia dini?

Menurut Ustadz Irfan Supandi, Dosen Fakultas Tarbiyah STAIN Surakarta, Rosulullah Muhammad SAW telah bekerja sejak beliau belia. Setelah bapaknya meninggal, Nabi Muhammad telah dikenalkan bisnis oleh pamannya diusia 12 tahun. Abu Tholib, pamannya, mengajak Muhammad kecil ikut membawa dangan ke luar Makkah.

“Dalam pengasuhan Abu Tholib, Nabi Muhammad telah dikenalkan dengan bisnis. setelah kira-kira usianya genap 12 tahun, Nabi Muhammad telah dikenal masyarakat Makkah ketika itu sebagai seorang pedagang yang tangguh dan jujur”, kata Irfan Supandi saat ditemui dirumahnya, Kerten Solo.

Lebih lanjut Irfan mengungkapkan bahwa, berbisnis sejak kecil adalah kebiasaan orang-orang terdahulu (rosulullah dan para sahabatnya-red). Mereka mengenal bisnis sejak kecil karena orang tuanya bekerja sebagai pebisnis. Karena lingkuangan yang seperti itulah, akhirnya sejak kecilpun anak mengenal ilmu jual beli.

Bagaimana dengan sekarang ini, bolehkah anak bekerja diusia sekolah?

Menurut bapak dari 7 anak ini, dulu dan sekarang telah berbeda kondisinya. Jika dulu anak langsung terjun kepasar untuk menjajakan barang dagangannya. Tidak demikian untuk  jaman sekarang. Sekarang lebih pada pengenalan melalui meja sekolah agar anak tidak buta terhadap bisnis. pengenalan ini dilakukan dari buku pelajaran yang dipakai anak disekolah.

“Jika kita cermati, ada yang kurang pas dari buku-buku pelajan kita saat SD dulu. Kebanyakan mengajarkan kalimat-kalimat konsumtif, contohnya “ibu membeli sayur dipasar”, atau “Wati membeli buku di toko”. Kalimat-kalimat ini secara tidak langsung mengajarkan pada kita untuk menjadi konsumen. Bukan produsen. akibatnya, secara pelan-pelan anak terbiasa menjadi konsumen dibanding produsen karena kebiasaan sejak kecil telah dikondisikan seperti itu”, kata Dosen Fakultas Tarbiyah STAIN Surakarta ini.

Menurutnya, kalimat-kalimat konsumtif tersebut perlu dirubah menjadi kalimat yang secara spikologis membangun karakter bisnis anak seperti “ibu menjual sayur ke pasar” atau “wati menjual buku di toko”, dst.  Akan berbeda hasilnya jika ini dikondisikan sejak anak masih kecil (sekolah). “Brand image yang terbentuk dibenak anak akan berubah. Awalnya konsumtif menjadi produktif. Inilah salah satu contoh yang kurang pas dari pendidikan kita”, demikian ungkap dosen sekaligus pengusaha kacang ini.

Berada dilingkungan yang memiliki motivasi berbisnis diharapkan anak ikut tertular semangat dalam menjalaninya. Adapun peluang menjadi seorang karyawan atau yang lain, tinggal sang pelaku untuk memilihnya. Yang jelas, dengan berbisnis, anak diajari untuk mandiri dalam hidup. Sunardi/hadila

Fokus Utama | 01 Juni 2009

Artikel terkait


No Response to "Islam Mendidik Anak Mandiri"

Leave Reply

Nama

Email

Website

Anti-spam word