Artikel

Lupa Cara Bangun

Jangan  pernah putus asa. Langit masih luas, matahari masih bersinar, rembulan dan bintang masih menghias langit.

Satu tahun, Antonio, kawan baru Luqman, berdiam diri di rumah. Ia bosan gagal terus dalam berbisnis, dalam berusaha. Terakhir, ia berbisnis sparepart motor. Bisnis terakhir ini pun kandas. Sejak itulah, ia malas keluar rumah. Ia lebih banyak berdiam diri di rumah. Hilang kepercayaan dirinya, hilang semangatnya. Ia akhirnya terpengaruh juga oleh omongan orang-orang sekitarnya bahwa tangannya tangan sial. Usaha apa saja pasti bangkrut.

Suatu hari, tanpa sengaja, ia dikunjungi dua orang tamu. Satu, kawannya sendiri semasa SMA. Dan yang satunya lagi, kawannya si kawan SMA tadi. Istimewanya, kawan baru ini diperkenalkan sebagai bos kawan SMA-nya. Dan tambah istimewanya lagi, si bos ini, adalah orang yang tidak sempurna tubuhnya.

Luar biasa, pikir Antonio. Kenapa justru yang cacat ini yang jadi bos kawan SMA saya? Kenapa bukan kawan saya, yang normal?

Pikiran ini dibaca oleh dua tamu ini. Bertuturlah si kawan yang cacat ini tentang dirinya. Ia menceritakan bahwa hampir satu dasawarsa ia merasa dirinya hanyalah orang-orang pinggiran. Hampir satu dasawarsa ia merasa dirinya hanyalah bagian dari kecacatan dunia, sebab ia cacat. Tubuhnya boncel, alias kerdil. Wajahnya juga tidak terlalu sedap dipandang mata. Akhirnya, ia mengakui bahwa dirinya benar-benar menjadi orang-orang pinggiran yang cacat. Ia menemukan, ternyata penyebabnya itu bukan karena kecacatan dirinya, tapi justru karena kepercayaan dirinya yang salah. Ia menganggap dirinya bagian dari orang-orang pinggiran, makanya jadi orang pinggiran selamanya. Ia menganggap dirinya bagian dari kecacatan dunia. Akhirnya, selain cacat secara fisik, ia juga cacat secara mental.

Masih menurut cerita kawan ini, yang belakangan diketahui bernama Rustam, ia berubah setelah mendapat masukan sana-sini dan mulai bergaul dengan orang-orang yang bernasib sama dengan dia, tapi hidup mandiri dan sukses. Ia menemukan kepercayaan diri yang baru. Ia menanamkan kepercayaan diri yang bagus. Katanya, kalau ia percaya bahwa dirinya pun bisa sukses seperti orang normal, ia akan sukses sebagaimana orang-orang sukses lainnya. Kalau ia percaya ia bisa melakukan banyak hal, ia bisa melakukan banyak hal. Dan ia pun percaya, ia memiliki satu kelebihan alamiah yang tidak dimiliki orang-orang normal. Dan ia menemukannya! Ia ternyata jago melukis.

Suatu hari, setelah sekian tahun menemukan dunianya dan malang melintang di dunia ini, dunia lukisan, ia melakukan pameran tunggal, dan…berhasil!! Setelah acara tersebut, ia membuka gerai sendiri dan mempekerjakan karyawan-karyawan yang normal. Salah satu karyawannya ini adalah kawan SMA Antonio yang saat ini berkunjung ke rumah Antonio.

Antonio mendengarkan dengan seksama cerita demi cerita yang mengalir dari bibir Rustam. Rustam berhasil setelah ia mengubah kepercayaan dirinya. Rustam berhasil setelah ia mengubah pandangan terhadap dirinya sendiri. Benar kata Rustam, sekali kita merasa sebagai orang-orang yang kalah, selamanya kita akan menjadi orang-orang yang kalah. Sekali kita percaya kita sial, maka boleh jadi kita sial terus-menerus sebab kita percaya sial. Sekali kita tidak percaya kita bisa sukses, maka kita tidak punya energi yang cukup untuk meraih kesuksesan. Karena kepercayaan diri dan cara pandang diri sudah merupakan kunci sukses tersendiri.

Terakhir, Antonio mendapat wejangan arif dari seorang Rustam yang cacat. Rustam tahu “kecacatan” Antonio bahwa ia sering merasa kalah dan sering merasa sial. “Seringkali kita harus menjajal sepatu satu demi satu untuk mengetahui sepatu mana yang cocok untuk kaki kita”, begitu wejangan Rustam kepada Antonio. Ya, kadang untuk menggapai kesuksesan, kita harus melewati tangga-tangga kegagalan.

Kedatangan kawan Antonio dan kawannya yang cacat menjadi berkah buat Antonio. Ia tidak mau terlalu lama berdiam diri, takut “lupa bangun”.

Kegagalan demi kegagalan adalah proses tahapan kesuksesan itu sendiri.

Wisata Hati | 01 Juni 2009

Artikel terkait


1 Response to "Lupa Cara Bangun"

hussein berkomentar :
pembentukan sebuah karakter seseorang terkadang terbentuk dan tersimpulkan oleh perjalanan hidup yang dijalaninya, kita sbagai mahluk mempunyai keterb
pada 27 Juni 2009

Leave Reply

Nama

Email

Website

Anti-spam word