Artikel
Saat diwawancarai di sebuah stasiun TV tentang hasil temuan Komnas Perlindungan Anak yang telah melakukan survei di 12 kota besar di Indonesia, Kak Seto mengungkapkan kenyataan bahwa 62,7% siswa SMP sudah tidak perawan lagi. Apa yang diungkapkan Kak Seto itu perlu segera ditindak-lanjuti. Bisa saja temuan tersebut bak fenomena gunung es, yaitu kenyataan yang ada, jauh lebih banyak dari pada yang nampak.
Saat saya mengajak putra bungsu saya yang berusia 8 tahun ke Parang Tritis, Yogyakarta, saya berharap kami bisa menemukan pemandangan yang indah khas pantai laut Selatan. Namun tatkala tiba di sana, kami malah “dikepung” oleh pasangan remaja yang sedang kasmaran dan unjuk kemesraan. Saya merasa tidak nyaman lagi untuk menikmati keindahan laut. Apa yang saya harapkan, yaitu keriangan hati, tidak saya peroleh di sana. Justru perasaan saya sedih dan risau. Pemandangan serupa juga acapkali saya jumpai di mall, di toko buku besar, atau saat berhenti di lampu merah. Mengapa ruang publik yang seharusnya mereka hormati sebagai milik semua orang, harus dicemari dengan perbuatan yang tidak nyaman? Mbok ya punya sensitivitas tinggi bahwa ruang publik bukan cuma milik berdua.
Dalam QS. Al-Isra’ ayat 32 dengan tegas Allah SWT melarang untuk mendekati zina (bayangkan, mendekati saja dilarang apalagi melakukannya), yang artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”
Saat saya meminta pendapat tentang hal tersebut kepada salah seorang rekan kerja, seorang pemuda 24 tahun, ternyata ia malah pendukung seks bebas. Bahkan ia tidak merasa malu saat mengungkapkannya. Dengan entengnya ia mengatakan: “Lha wong orangtua pacar saya dan orangtua saya tenang-tenang saja melihatnya, ngapain repot?”
Ia lalu menambahkan, “Itu mah itu bukan rahasia lagi, Mbak. Teman-teman saya yang kost malah sudah biasa membawa pacarnya ke kamarnya. Dan satu hal lagi, yang mengajak gituan kadang perempuannya lho!”
Saya yakin mereka yang terlibat dalam seks bebas tersebut pasti punya pembenaran sendiri, dan tentunya mereka tidak mau keasyikan mereka terganggu. Mereka bagai orang tuli, yang tak mau mendengar saat diperingatkan karena kenikmatan nafsu syahwat telah membutakan mata hati mereka. Ya, saat nafsu sudah merasuk pikiran, maka seribu nasehat sudah tak mempan lagi. Bisa saja nyawa mereka dicabut di saat tengah asyik berbuat mesum. Kalau sudah begini, adakah kesempatan bertobat?
Jika para pelaku seks bebas sudah tidak malu-malu lagi mengungkapkannya; jika orang-orang disekitarnya hanya cuek saja melihatnya; jika para orangtua tidak lagi resah dengan tingkah-polah anak remajanya; jika pemerintah tidak segera membuat undang-undang tentang anti pornografi dan pornoaksi, lalu bagaimana nasib generasi yang akan datang? Apakah kita hanya bisa menunggu “turun tangan”nya Allah?
Menurut sebuah majalah, di Amerika dan Eropa, orangtua yang masih konservatif banyak merasa resah melihat prilaku anak remajanya yang sudah kebablasan tersebut. Mereka resah dengan merebaknya unjuk kasih-sayang di muka umum atau Public Display of Affection (PDA) yang biasa dilakukan di café, di taman, di tempat wisata, di mall, dan sebagainya. Mereka berharap anak remajanya mempunyai sensitivitas tinggi terhadap ruang publik dengan tidak melakukan PDA. Sayangnya harapan tersebut ternyata sulit untuk diwujudkan.
Ada pun langkah-langkah pencegahan supaya anak kita tidak terlibat PDA. Pertama, menyekolahkan mereka di sekolah yang berbasis agama. Kedua, selalu menanamkan nilai moral sebuah perbuatan baik dan buruknya di mata Allah SWT dan di mata manusia. Ketiga, selalu memperhatikan setiap keanehan yang terjadi pada tingkah-lakunya. Keempat, berusaha untuk berempati dengan apa yang sedang ia rasakan dengan saling berbagi cerita dan berdialog dari hati ke hati. Kelima, berusaha untuk menjadikan rumah sebagai “sarang” yang nyaman.
Oleh : Fahriah
Penulis seorang wirausahawati, tinggal di Jogjakarta
Kolom Muslimah | 01 Juni 2009Artikel terkait
- RAHASIA Sabar, Bijaksana dan Beriman
- INDAHNYA BERKOMUNIKASI
- Menjadi Insan Kamil
- Menyayangi Mertua Sepenuh Hati
- Sudah Cantikkah Dirimu?


