Artikel
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa,
Allah, tempat bergantung segala sesuatu,
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan
Dan tak ada seorang pun yang setara dengan-Nya
Anas ra berkata, seorang lelaki Anshar menjadi imam di masjid Quba. Setiap selesai membaca Fatihah, ia selalu membaca Al Ikhlaash sebelum membaca surat-surat lainnya. Lalu kawan-kawannya berkomentar, “Mengapa anda selelu membacanya? Tidakkah anda bosan?” Sahabat itu menjawab, ‘Sungguh aku tak bisa meninggalkanya. Kalau kalian tidak suka aku menjadi imam karena sering membaca Al Ikhlaash, silakan cari imam yang lain.” Namun karena tidak ada orang yang paling baik bacaan Al Qurannya selain dia, akhirnya ia tetap jadi imam.
Ketika Rasululah saw berkunjung ke masjid itu, kasus ini diceritakan kepadanya. Rasulullah kemudian bertanya kepada lelaki Anshar tersebut, ”Apa alasan kamu melakukan hal itu?” “Inni uhibbuha (saya sangat mencintainya).” Jawabnya. Lalu Rasulullah bersabda, “Hubbuka iyyaha adkhalakal jannata (kecintaanmu pada Al Ikhlaash bisa mengantarkanmu ke surga).” (HR. Bukhari)
Rasulullah sampai berkata demikian karena yang melatarbelakangi sahabat tersebut selalu membaca Al Ikhlaash adalah kecintaannya yang mendalam. Rasa cinta inilah yang membedakannya dengan kita. Kita juga sering membaca Al Ikhlaash, hanya saja latar belakangnya bukan cinta yang mendalam tapi karena pendeknya surat itu. Untuk itu, mari kita kenali kandungan Al Ikhlaash agar kita pun bisa mencintainya secara mendalam, sehingga bisa mengantarkan kita pada surga-Nya.
Ustadz Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Quran Al ‘Azhiim, jilid IV, hal 565-571, mencantumkan tidak kurang dari tiga puluh hadist yang berkaitan dengan surat Al Ikhlaash, salah satunya hadist di atas. Kemudian hadist berikut,
Abu Darda ra berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Apakah kalian mampu membaca sepertiga Al Quran setiap malam? Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, kami tidak akan mampu melakukannya.” Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah membagi Al Quran menjadi tiga bagian, dan Qulhuwallaahu ahad itu sepertiganya.” (HR. Ahmad, Muslim dan Nasai).
Para ahli menyebutkan, yang dimaksud “Sesungguhnya Allah swt membagi Al Quran menjadi tiga bagian”, pertama, Al ‘Aqaid (masalah-masalah yang berkaitan dengan ketauhidan dan ketuhanan, termasuk di dalamnya meluruskan penyimpangan-penyimpangan konsep ketuhanan). Kedua, Asy Syara’i (masalah-masalah yang berkaitan dengan peribadatan dan hukum). Ketiga, Al Qashash, (masalah-masalah yang berkaitan dengan kisah-kisah kehidupan para rasul ataupun orang-orang saleh, bahkan riwayat orang-orang durhaka pun dibicarakan sebagai bahan pelajaran hidup.
Al Ikhlaash artinya kemurnian keesaan atau ketauhidan Allah swt. Jadi makna hadist di atas adalah surat Al Ikhlaash mewakili sepertiga pembicaraan Al Quran, yaitu ketauhidan. Bukan bermakna satu kali baca Al Ikhlaash sam dengan membaca sepertiga Al Quran, sehingga diartikan dengan tiga kali membaca Al Ikhlaash sama dengan menamatkan tiga puluh juz. Jelas ini pemahaman yang kurang tepat.
Sementara Ustadz Muhammad Abduh dalam Tafsir Al Quran Al Karim (Juz Amma) menyebutkan kata Qul huwa mengandung makna informasi yang disampaikan itu kebenarannya sudah pasti dan didukung oleh bukti rasional yang tak ada sedikit pun keraguan padanya, bahwa Allah swt itu esa dalam dzat-Nya. Dengan kata lain, keberadaan Dzat Allah yang Esa itu merupakan suatu aksioma.
Ayat ini menegaskan, konsep ketuhanan alam Islam sangat konsisten, sangat mudah dicerna oleh siapapun dan sangat rasional. Allah swt itu satu dalam dzat-Nya. Kapan dan dimanapun, secara konsisten kita menyatakan Allah itu dzat-Nya hanya satu, hanya Dia satu-satunya Maha Pencipta, Pengatur, Pemberi rizki, Pemberi kehdupan, Penentu kematian, Maha Bijaksana, Maha Adil, dan seluruh Maha lainnya hanya milik Allah, Dzat yang tunggal. Singkat saja, konsep ketuhanan dalam Islam itu, “Say: He is Allah, The One and Only”. Dengan demikian, semua lapisan masyarakat, dari yang tidak pernah duduk di bangku sekolah sampai post doctoral secara mudah bisa mencernanya.
Logikanya, kalau Allah itu satu, kebijakan-Nya pun akan konsisten (tidak akan terjadi kontradiksi kebijakan). Anda bisa bayangkan, betapa repotnya kalau dalam satu Negara ada tiga presiden. Kira-kira apa yang akan terjadi? Kalau ada tiga penguasa dalam satu negara, berarti akan ada tiga kebijakan untuk suatu kasus. Artinya, bila di muka bumi ini ada tiga Tuhan, akan ada tiga kebijakan yang berpeluang besar kontradiktif, sehingga akhirnya akan membawa pada kehancuran.
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya sudah rusak binasa. Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”. (QS. Al Anbiya 21: 22).
Ustadz Muhammad Abduh dalam karyanya Tafsir Al Quran Al Karim menyatakan, kata ash-shamad mengisyaratkan pengertian bahwa kepada Allah-lah secara langsung bermuara setiap permohonan, tanpa harus ada perantara atau pemberi syafaat. Penegasan Allahuhshamad merupakan antitesis (perlawanan) terhadap keyakinan kaum musyrikin dan penganut agama-agama lainnya yang berkeyakinan bahwa Tuhan harus didekati melalui perantaraan orang-orang saleh.
Sesungguhnya kaum musyrikin yang memusuhi Islam percaya kepada eksistensi Allah swt. Namun, mereka tidak pernah langsung berdoa atau beribadah kepada-Nya. Mereka membuat perantara yaitu dalam bentuk berhala atau orang-orang saleh yang sudah meninggal. Saat mereka ditegur, “Mengapa kalian menyembah berhala-berhala ini?” Jawabnya, “Kami tidak pernah beribadah pada berhala ini, kami hanya menjadikannya perantara untuk menyampaikan permohonan kami kepada Allah”.
“…Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya…’” (QS. Az-Zumar 39: 3).
Kalau kita cermati, saat ini masih ada sebagian kaum muslimin yang keyakinan dan perilakunya seperti kaum musyrikin jahiliah. Mereka datang ke kuburan orang saleh, lalu shalat dan berdoa, “Ya Auliyaa Allah (wahai para kekasih Allah), sampaikan permohonan kami kepada Allah agar anak kami segera mendapatkan jodoh”. Sewaktu ditegur, “Mengapa anda minta kepada orang-orang saleh yang telah wafat? Mengapa tidak langsung saja meminta kepada-Nya?” Jawabnya, “Kami tidak meminta pada para wali, tapi hanya menjadikannya sebagai perantara agar doa kami segera disampaikan kepada-Nya. Mereka itu kan orang-orang saleh, sementara kita hanya orang biasa”. Coba anda amati, substansi jawabannya tidak berbeda dengan jawaban kaum musyrikin seperti tertera pada QS. Az-Zumar ayat 3 di atas.
Seorang Badui pernah bertanya kepada Nabi saw, “Ya Rasulullah, apakah Tuhan itu dekat atau jauh? Kalau dekat, saya akan minta dengan suara pelan dan kalau jauh saya akan minta dengan suara keras”. Mendengar pertanyaan itu Rasulullah saw terdiam menunggu wahyu hingga turun ayat berikut,
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al Baqarah 2: 186).
Merujuk pada ayat ini, para ahli tafsir menegaskan, sudah sepatutnya seorang hamba berdoa dengan suara lembut, tidak perlu keras, karena Allah itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Juga tidak perlu pakai perantara karena Allah itu qariib (sangat dekat). Adapun terkabul dan tidaknya suatu doa, sangat ditentukan oleh kesalehan diri kita, bukan kesalehan orang lain, karena pada ayat itu ada kalimat “Hendaklah mereka itu (orang yang memohon) memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku”.
Ada dua kata dalam Al Quran yang sering digunakan untuk menafikkan atau meniadakan sesuatu, yaitu kata lam (huruf lam berharakat fatah disambung huruf mim yang berharakat sukun) dan kata lan (huruf lam berharakat fatah disambung huruf nun yang berharakat sukun). Kata lam digunakan untuk menafikan sesuatu yang akan terjadi.
Kata lam digunakan pada ayat ini untuk menggambarkan bahwa saat itu telah beredar keyakinan bahwa Tuhan itu bisa beranak sebagaimana dijelaskan pada ayat berikut, “Mereka berkata, ‘Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak’. Sungguh, kamu telah mendatangkan suatu perkara yang sangat munkar. Langit nyaris pecah karena ucapan itu, bumi belah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka telah mendakwa Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Sungguh tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil anak. Tak seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan semua mereka akan datang kepada-Nya pada hari kiamat secara sendiri-sendiri”. (QS. Maryam 19: 88-95).
Singkatnya, kata lam yang digunakan pada ayat lam yalid wa lam yuulad merupakan koreksi terhadap keyakinan yang beredar saat itu. Seolah ayat ini mengatakan, “Keyakinan anda keliru, sesungguhnya Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”.
Kemudian surat Al Ikhlaash ini ditutup dengan ayat yang menafikan (meniadakan) segala hal yang sama dengan Allah swt. “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya”. Artinya bukan hanya dari segi beranak dan diperanakkannya, tapi Allah itu berbeda dengan makhluk dalam segala dimensinya. Wallahu a’lam.
Kalam Ilahi | 01 Juni 2009


