Artikel

Menyayangi Mertua Sepenuh Hati

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra’ : 23)"

Siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik. Nabi menjawab : Ibumu. Kemudian siapa? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa? Bapakmu.” (Muttafaq ‘alaih)

Setiap anak memiliki kewajiban berbakti kepada orang tua, bukan hanya sekedar karena hal itu merupakan perintah Allah, tetapi lebih karena hal itu sudah sepantasnya dilakukan. Bagaimana tidak jika sejak masih di kandungan, sudah terlalu banyak pengorbanan yang orang tua lakukan untuk anaknya, terutama ibu. Karena itulah Rasulullah menyatakan bahwa ibu harus didahulukan daripada ayah dalam hal bakti seorang anak pada orang tuanya.

Hal ini berlaku unuk setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan. maka mari kita sayangi ibu mertua sebagaimana kita menyayangi ibu kita, Jangan sekali kali menganggap dia hanya ibu dari suami kita.Usahakan menjaga akhlakul karimah  didepan mertua. Jika diri kita berakhlakul karimah  sang mertua akan percaya pada kita,bahwa kita mampu memberikan kenyamanan bagi anaknya.dan setiap bunda akan merasa senang jika anaknya bahagia.

Menyayangi dan mencintai mertua adalah kewajiban diri kita sebagai menantunya. Menyayangi mertua sebagai bukti cinta kita pada suami.sebagai pengganti kasih sayang putranya yang menyayangi diri kita. Jika kita mencintai suami dengan sempurna.kita harus bisa mencintai ayah bunda serta keluarganya…

Selain menganggap mertua sebagai orangtua sendiri, cobalah untuk menganggapnya sebagai teman. Dengan menganggapnya sebagai teman, akan lebih mudah bagi kita untuk mendekatinya

Lakukan kegiatan bersama. Misalnya makan malam bersama di luar, berkebun, atau apa saja, sehingga muncul kedekatan dan rasa saling memerlukan. Jika rasa saling memerlukan sudah dimiliki, maka akan timbul rasa saling menghormati. Apalagi jika menantu dan mertua memiliki hobi yang sama. Yang penting adalah sikap bisa menerima kekurangan dan kelebihan salah satu pihak.

Kisah menantu perempuan yang tidak akur dengan ibu mertuanya bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia. Apalagi jika tinggal serumah. Tapi bukan berarti masalah antara menantu dan mertua tidak bisa diselesaikan.

Ada dua macam konflik antara mertua dan menantu. Yakni konflik terbuka dan tertutup. Konflik terbuka terjadi jika menantu perempuan mengomentari atau mendebat langsung apa yang dilakukan atau dikatakan ibu mertuanya. Dan sebaliknya. Sedangkan konflik tertutup terjadi ketika si menantu enggan bertemu atau berbicara dengan mertuanya.
 
Menghadapi masalah seperti ini, Psikolog Sophie Bilqis dari Pusat Informasi Layanan Psikologi memberi tiga tips, yakni sopan, sabar dan tegas. Sopan berarti, dalam mengungkapkan sesuatu yang tidak disukai, menantu sebaiknya mengatakan dalam tutur bahasa halus dan sopan.
Setiap keluarga memang memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda-beda, perbedaan inilah yang harus dipahami dan disesuaikan bagi pasangan muda yang masih tinggal bersama sang mertua.

Perasaan takut dan tertekan sering kali muncul sehingga terkadang menimbulkan konflik antara mertua dan mantu. Konflik antara menantu dan mertua juga sering kali terjadi karena kurangnya komunikasi yang terjalin antara kedua belah pihak, momok mertua yang terkesan suka mengkritik, menggurui, merasa lebih baik dan sebagainya biasanya muncul bagi mereka yang kurang mengenal sang mertua sehingga perasaan tertekan sudah muncul diawal.


Pelajaran yang dapat dipetik adalah bagi suami berhati-hatilah memperlakukan isteri, jangan sampai membuat ibu kita merasa tersingkir dan marah sehingga membuat amal ibadah anda tidak berdaya menghadapi terlukanya hati ibu anda.

Dan bagi para istri, jangan menganggap remeh kedudukan ibu mertua anda, karena sampaikan kapan pun ibu mertua anda mempunyai hak penuh atas putranya! Karena itu, seorang istri yang cerdas seharusnya lebih berpikir untuk dapat merebut hati ibu mertua, sebab dengan begitu akan sekaligus mendapat cinta suami, darpada memikirkan masalah atau konflik dengan ibu mertua yang tidak ada habisnya.

Memang, konflik antara mertua dan menantu bukanlah hal baru. Terlebih, jika keduanya berada dalam satu atap. Gesekan demi gesekan pun kerap terjadi. Akibatnya, bukan tidak mungkin jika pasangan terbawa dalam konflik itu, sehingga hubungan perkawinan menjadi tidak harmonis lagi. Rumah pun tak lagi nyaman dihuni
Kalaupun ada pergesekan, anggap hal yang wajar tidak perlu dimasukan ke hati. Jangankan dengan ibu mertua, dengan orang tua sendiri yang melahirkan kita pun kadang konflik itu terjadi. Yang penting ada usaha menyangangi mertua, biar tetap disayang.


Ibu adalah Hamba Allah pertama yang mendidik dan menjadi guru bagi anak sebelum menduduki bangku sekolah. Semua ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sebab itu jasa mereka perlu diingati dan memang tidak dapat dipertikaikan lagi mengapa Islam menganjurkan kita supaya berbakti kepada kedua-duanya.

Begitu besar sekali pengorbanan yang sanggup dilakukan oleh ibu bapa terhadap anaknya. Dari itu tidak hairanlah mengapa Islam menitikberatkan sangat soal berbakti dan berlaku taat setia kepada dua ibu bapa.

Maka jangan sampai kita membuat sakit hati  Ibu. Yang pada hakekatnya sama dengan ibu Mertua kita , ingat dalam kisah Shohabat Nabi Muhammad SAW yang durhaka pada Ibunya gara-gara terlalu mementingkan kepentingan Istri , yaitu

Wail bin Khatab yang menderita sakit mengerikan saat menghadapi kematian. Menggelepar-gelepar mengeluarkan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuh disertai tangan dan kakinya yang kaku merengang tegang menghadapi sakaratul maut. Begitu pula Al Qomah seorang shaleh yang saat naza`sakaratul maut, lidahnya terkunci tidak bisa mengucapkan kalimat Tauhid.

Semua disebabkan karena sikap mereka yang lebih mengutakaman istri hingga menyakiti perasaan sang ibu.. Na`udzubillahimin dzalik. Semoga tidak menimpa diri kita.

Kolom Muslimah | 11 April 2009

Artikel terkait


No Response to "Menyayangi Mertua Sepenuh Hati"

Leave Reply

Nama

Email

Website

Anti-spam word